CABUK RAMBAK
Cabuk rambak
/cabukrambak/ n (C)
makanan khas Solo yang terbuat dari ketupat (rice cake / kupat) dengan saus wijen manis gurih dan dimakan dengan lauk karak a.k.a rice crackers a.k.a lempeng (Jawatimur).
Cabuk rambak adalah
makanan yang unik menurut saya. Pertama kali saya mengenal makanan ini sekitar
15 tahun yang lalu. Awalnya lidah Jawa Timur saya agak menolak rasanya karena
cenderung manis dan sama sekali tidak ada sentuhan cabe. Tetapi setelah mencoba
beberapa kali akhirnya saya cinta betul dengan makanan ini. Karena cinta maka saya berusaha mencari apa
yang membuat rasanya begitu unik.
Kupat. Seperti yang sudah
saya sebut diawal, serta sesuai kitab suci perkupatan, kupat seharusnya dibuat
dengan bungkus daun kelapa supaya aroma harum daun kelapa bisa merasuk ke beras
yang dimasak berjam-jam menjadi kupat. Selain itu daun kelapa membuat warna
ketupat sedikit ada shading – nya, nggak cuma putih memplak aja kayak
muka mbak2 yang pake sekinker murahan. Hahaha… Back to topic, please! Selain itu, ketika kupat diiris, suara pisau
memotong bungkus daun kelapa itu kres..kres-nya saaaaangat merdu di telinga
saya. Xixixixi.
![]() |
Ibu bakul cabuk rambak wilayah kerja Tipes - Panularan, Solo. |
Sambel cabuk. Saya jujur
tidak tahu arti cabuk sebenarnya, hanya menduga-duga saja bahwa cabuk adalah
wijen. Beberapa orang asli Solo yang pernah saya tanyai mengapa itu sambel
disebut sambel cabuk ternyata tidak tahu juga. Akhirnya saya simpulkan sendiri
aja, cabuk is wijen a.k.a sesame. Sesame sopir dilarang
mendahului … Menurut analisa saya,
rasa gurihnya berasal dari wijen sangrai yang ditumbuk halus. Wijen kalau independen
seperti di onde-onde memang tidak ada rasanya. Tetapi ketika mereka bersatu dan
disangrai lalu ditumbuk, muncullah aroma harum dan rasa yang manis gurih. Belum
cukup sampai disitu. Wijen tumbuk ditambah bumbu-bumbu lain yang membuatnya
aromanya semakin semerbak dan rasanya semakin legit. Sekali lagi menurut benchmarking
pribadi, bumbu yang dihaluskan bersama wijen tumbuk tadi kira-kira adalah
kencur, gula dan garam pastinya, dan daun jeruk purut. Kadang ada yang
menambahkan daun jeruk purut iris disambalnya yang belum dicairkan. Inilah yang
membuat aromanya sangat khas. Sekarang bayangkan…gurihnya wijen dipadu aroma
dan rasa kencur yang sedikit sepet semriwing plus aroma daun jeruk purut. Belum
bisa membayangkan?.... Yowis tukua dewe…
Karak. Makanan
ini disebut lempeng di daerah Karesidenan Madiun. Konon karaka tau lempeng
terbuat dari nasi ditumbuk bersama garam cetitet a.k.a borax lalu
diiris tipis dan dijemur. Kalau sudah kering, karak mentah digoreng dengan
minyak. Kenapa saya mesti sebut pakai minyak, karena ada jenis karak yang
dipanggang yaitu jrangking. Kapan-kapan saya tulis ini deh… Pertama kali saya
makan cabuk rambak, saya sebenarnya tertipu. Saya pikir rambak yang dimaksud
adalah rambak kulit sapi, eeee …. gak taunya cuma karak. Hahaha… Gak tau juga
kenapa disebut rambak. Mungkin untuk menghibur rakyat jelata seperti saya,
jajan bunyinya rambak kan keren karena mahal, tapi kenyataannya cuma karak. You know, rambak
is mihil. Karak 2000 rupiah dapat 7 lembar, rambak sapi 2000 rupiah dapat
pisuhan bakule. Wkwkwkwk… Cabuk rambak akan memunculkan rasa yang sempurna
ketika karak yang disajikan bersamanya ada nuansa agak gosong-gosong. Aroma
sangit dan sensasi kriuknya karak gosong
sungguh tak tergantikan.
Daun pisang. Kehadiran daun pisang sebagai pembungkus
cabuk rambak adalah sangat esensial.
Sama halnya dengan daun kelapa pembungkus kupat tadi, daun pisang
memberikan aroma yang khas dan sensasi memegang pincuk yang sangat berbeda dari
bungkus kertas minyak. Selain itu bungkus daun sangat ramah lingkungan. Jadi
sebaiknya kalau kamu berkunjung ke Solo dan hendak membeli cabuk rambak,
pastikan bungkusnya daun pisang, bukan daun ganja atau daun pintu.
Terakhir tetapi penting juga.
Biting. Benda kecil
sepanjang kurleb 7 cm biasanya terbuat dari tulang daun kelapa atau bambu yang
diruncingkan seperti jarum. Benda ini sangat penting karena mempunyai
dwifungsi ABRI (sounds ORBA,
doesn’t it?) Pertama, biting
berfungsi untuk mengancingkan bungkus cabuk rambak. Stapler OK tetapi bahaya
tertelan, karet no problem tetapi bahaya kejepret. Biting? Yes. Kedua, selain untuk mengancingkan bungkusnya, biting berfungsi sebagai alat makan.
Makan cabuk rambak itu paling afdol adalah dengan biting, bukan dengan garpu
yang kebarat-baratan. Cukup sunduk itu potongan kupat yang berlumur sambal
cabuk dengan biting, lalu hap dan gigit karaknya pelan-pelan. That’s heaven…
Demikian hasil benchmarking
saya tentang cabuk rambak. Kalau ada kurang dan keliru mohon maaf karena
kesempurnaan adalah milik Tuhan. (*nulis gini sambil ngelap iler
(Ora sah ngguyu….aku serius!)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar